Dalam satu perbincangan dengan member senior TDA, saya diingatkan kembali tentang betapa euforia kewirausahaan saat ini adalah kopong (fundamentalnya tidak ada). Saya terkejut, apa itu Pak ? ya, karena sebagian besar baru level motivasi, baru ribut-ribut diurusan pindah kuadran. Ada kesenjangan yang luar biasa antara mereka yang baru memulai dengan yang sudah dicitrakan sukses bisnisnya.
Yang baru memulai, terlalu banyak kekenyangan jargon-jargon motivasi, terlalu sering ikut acara fantastis penuh cerita sukses, gairah kewirausahaannya meluap-luap saat hadir diacara. Tetapi kebingungan ketika sampai dirumah. Sementara yang sudah sukses sibuk menebar pesona cerita sukses, tanpa disadari sebenarnya mereka sangat jarang menceritakan apa kunci sukses mereka. Semua yang tampak adalah kulit luar yang indah saja.
Saya makin bertanya, jadi fundamentalnya sebenarnya apa Pak ? fundamentalnya adalah pengetahuan teknis soal bisnis, secara lebih khusus soal manajemen. Saya ditanya coba terangkan secara berurutan, bagaimana caranya meluncurkan produk baru, dari A sampai Z ! Saya jelas kelagapan, karena saya memang tidak tahu teknis ilmu bisnisnya.
Saya ditegur, harusnya Anda lebih dalam mempelajari teknis bisnis, karena setelah sukses memulai, Anda harus sukses mengelola dan membesarkan. Lalu sukses konglomerasi ! Waks ?? Saya diingatkan kembali untuk kembalilah menjadi mahasiswa jurusan bisnis.
Betul, saya rasa bagi yang ingin memulai, coba berhentilah ber-motivasi ria … saatnya belajar dari buku yang basic, yang mendasar. Jangan melulu membaca buku “Cara Edan Jadi Pengusaha” atau “Cara Cepat Kaya Raya” atau “Sukses Bisnis Modal Lutut” … itu semua adalah bunga-bunga euforia kewirausahaan.
Pengetahuan teknis bisnis sangat mudah didapat. Bagi yang pernah kuliah di fakultas ekonomi, buku terjemahan “Pengantar Bisnis (Introduction to Business) – buku 1 & 2” pasti pernah dibahas. Juga buku “Kewirausahaan – buku 1 & 2”, pasti juga pernah dibahas. Semua buku-buku ini membahas secara detil aspek-aspek bisnis. Banyak sekali pertanyaan para pemula bisnis yang sudah ada jawabannya di buku ini. Banyak yang bilang, buku-buku seperti ini sangat tidak menraik, karena tidak INSTANT !
Saya bertanya, tapi Pak, itu khan buku mahasiswa ? teoritis, bertele-tele ? jawabannya jelas tidak. Saya ditanya, kamu khan kuliah teknik, pernah bekerja di perusahaan, punya wawasan kerja dan sedikit manajemen. Kamu pasti berbeda dengan mahasiswa. Mahasiswa baca buku untuk lulus ujian, jelas berbeda kalau kita yang baca. Kita baca buku teori itu dengan pisau pemikiran yang lebih tajam, karena kita sudah menjadi pelaku bisnis, bukan mahasiswa bisnis. Sangat berbeda perspektifnya. Saya dianjurkan terus membaca buku-2 manajemen dan marketing.
Satu pertanyaan lagi, tapi Pak apa betul kalau jadi pengusaha harus tahu detil soal bisnis ? apakah nantinya malah kita “in business (didalam bisnis)” ??? saya khan cita-cita punya bisnis tanpa kehadiran kita ??? …
Gundulmu !!! kamu itu keblinger sama definisi Brad Sugars ! yang kamu masukkan dalam pikiranmu cuman “ongkang-ongkang setelah bisnis jalan sendiri tanpa kehadiran kita” cuman itu khan ? jelas sekali kamu ngga memasukkan dalam pikiran-mu, bahwa syarat utama kamu bisa “meninggalkan bisnis”, adalah bisnismu harus sudah bisa berjalan sendiri dan sudah menghasilkan keuntungan !!! lha kamu ? mempelajari dan bikin sistem-nya aja belum, untung layak aja belum, sudah mikir ongkang-ongkang-nya duluan ….
sumber : http://mohamadrosihan.blogspot.com
Suatu siang dikantor SAQINA.COM, saya kedatangan tamu kawan dari TDA. Hari ini, kawan ini berniat bersilaturrahmi, dan mengabarkan, bahwa hari ini adalah hari pertama dia menuju TDA. Alias sudah sudah resign kemarin. Saya ucapkan dengan tulus, Selamat Berjuang. Suasana penuh semangat, ingin segera action atas segala rencana untuk menjadi entrepreneur. Asik yaa, saya selalu terharu dengan suasana semangat itu. Semua rencana dikabarkan. Semua proses yang akan dilalui dicoba dikonsultasikan.
Semasa menjadi karyawan, kawan kita ini ternyata kompetensinya luar biasa. Pengalaman kerja 6 tahun di industri consumer goods, karir dimulai dari bawah, merangkak sampai level management. Ia paham produksi, manajerial juga marketing. Ia pernah punya tanggung jawab membangun outlet-outlet ritel perusahaan. Ia sudah terbiasa dengan semua model perencanaan, kalkulasi bisnis, setting target, strategi pelaksanaan, pembangunan outlet, penyiapan karyawan, membuat dan men-training SOP, promosi bahkan sampai monitoring oulet sampai running well dan juga pelaporan. Suatu pengalaman kerja yang terintegrasi yang tidak semua bekas karyawan pernah mengalaminya.
Lalu, kita mulai membicarakan rencana wirausaha yang akan dijalaninya. Saya terkaget-kaget. Dia seperti mau berjalan tanpa pengetahuan. Ingin mencoba dulu beberapa bentuk usaha. Katanya takut gagal diawal. Tanpa business plan, tanpa berani menentukan target awal. Padahal dia tahu betul, untuk masuk dengan produk baru, harus riset market, harus menentukan STP (Segmentasi, Targeting & Positioning) dulu. Untuk memulai langkah, dia harus menentukan semua target cost-nya, juga berapa target laba-nya. Setiap langkah operasional harus ada target-nya. Setiap target yang harus dicapai, harus disiapkan semua perangkat pendukungnya, infrastruktur bisnisnya, SDM-nya, strateginya, dll-nya.
Lha kenapa jadi entrepreneur malah jadi berpikir terbalik ? kenapa jadi gagap business plan ? kenapa jadi takut menentukan target ? kenapa jadi bingung ketika harus mem-break-down infrastruktur bisnis apa saja yang harus disiapkan ? kenapa tidak berani menentukan target laba ? kenapa jadi gagap strategi pemasaran ? Kenapa kalau ditanya soal hasil jawabnya selalu “ya kita lihat saja nanti, namanya baru mulai, baru mencoba” ? Kenapa jadi takut bergerak bebas terencana dan terstruktur ketika Anda bisnis menggunakan Uang Anda Sendiri ??? Hayooo ….
Terus segala pengetahuanmu selama jadi karyawan kamu kemanain ??? kamu jangan tiba-tiba merasa memasuki dunia baru. Menjadi entrepeneur itu baru bagimu, tapi soal ilmu, Entreprenership itu Jadul !!! ilmu itu sudah ada sejak dulu. Bukan lahir kemarin sore. Semua ilmu yang kamu pahami di bekas perusahaan-mu itu sudah hampir 90% ilmu entrepreneurship untuk membesarkan bisnis perusahaan. Harusnya kamu bisa menentukan target dulu, baru secara mundur kamu mengisi semua hal infrastruktur yang diperlukan dalam mencapai target itu.
Selama ini memang ilmu entrepreneurship terkurung di perusahaan-2, terperangkap di sekolah-2 manajemen. Jadi ketika euforia entrepeneurship lagi hot, seakan-akan buku-buku2 entrepreneurship yang ada sekarang ini mengusung ilmu baru. Padahal muara menjadi entrepreneur itu ya punya perusahaan, menjadi konglomerat, lalu cukup menjadi Investor. Bicara evolusi bisnis, dari bisnis mikro dimulai menjadi bisnis kecil, menengah lalu besar menjadi Korporasi ! Setelah menjadi korporasi, ya berkutat di masalah-2 korporasi. Dan itu semua sudah puluhan tahun lalu ada.
Pendiri dan Pemilik bekas perusahaan-mu bekerja, itu sudah hampir menyelesaikan semua perjalanan menjadi entrepreneur ! namun tetap ingin terus tumbuh ! karena tidak ingin perusahaannya mati. Makanya mereka semua ingin karyawan level manajemen mempunyai jiwa INTRA-preneurship ! supaya perusahaan terus tumbuh.
Tahun ke-1 s.d ke-3 mungkin kamu coba-coba usaha. Tahun ke-3 kamu sudah yakin ada salah satu bisnismu yang yakin bisa kamu besarkan. Tahun ke-4 dan 5 bisnis-mu berkembang. Tahun ke-6 s.d 8 kamu sibuk menata manajemen, mulai merekrut karyawan-2 kunci, tanpa sadar bisnismu menjelma menjadi korporasi. Tahun ke-9 dan 10 kamu sudah sibuk mengembangkan kompetensi Manajemen Perusahaan-mu untuk terus berkembang. Makin banyak karyawan yang kamu rekrut dan kamu kirim ke Lembaga Training Manajemen. Dan seterusnya. Semua itu siklus itu sudah dilakukan oleh semua pendiri, pemilik dan diteruskan oleh karyawan manajemen-nya.
Hayo … jadi entrepreneur jangan pura-2 goblok. Entrepreurship itu sudah terstruktur ilmunya. Kamu sudah tahu semua, dan sudah terlalu pintar untuk menjadi entrepreneur …….
sumber : http://mohamadrosihan.blogspot.com
Membuka usaha dari rumah sendiri bisa menjadi salah satu pilihan untuk memulai langkah pertama sebagai pengusaha. Kita ketahui banyak pengusaha sukses yang mengawali karirnya dari rumah. Dan banyak pula perusahaan besar yang awalnya dirintis dari rumah pendirinya.
Memiliki usaha dari rumah akan menghemat investasi pada tempat / lokasi. Karena tidak perlu menyewa dan tidak perlu membelinya. Kalaupun rumah kita masih ngontrak, rumah yang kita kontrak akan menjadi lebih produktif dan tidak sekedar ditempati untuk tidur semata.
Di era digital saat ini, peluang untuk membuka usaha dari rumah terbuka sangat lebar. Kita bisa membuka usaha penjualan barang maupun jasa lewat internet. Asal barang dan jasa yang kita jual banyak yang membutuhkan dan web site yang kita buat bisa menjangkau calon pembeli, maka peluang mendulang uang lewat internet sangat terbuka.
Tidak hanya bisnis melalui internet, bisnis tradisional atau konvensional-pun bisa dimulai dari rumah. Syukur-syukur rumah kita ada di tempat yang strategis, maka kita memiliki kesempatan besar untuk mendatangkan konsumen.
Tapi bagaimana kalau lokasi rumah kita tidak strategis? Saya kira peluang untuk memiliki dan mengatur usaha dari rumah tetap ada. Berikut ini saya ceritakan salah satu sepak terjang seorang rekanan bisnis kami.
Ia seorang wanita yang memiliki bisnis yang sangat lumayan menurut ukuran saya. Dan dia menjalankannya lewat rumah. Strategi yang ia pakai adalah Konsinyasi, strategi yang mudah bukan?
Kebetulan, dia memproduksi sendiri beberapa jenis gamis dan makanan ringan. Barang-barang yang ia bikin, ia titipkan ke beberapa kios, toko, dan butik. Bahkan ia menitipkan penjualan makanan ringan ke beberapa pedagang kaki lima.
Tidak hanya barang buatan sendiri, setiap ada peluang dia juga menitipkan barang-barang yang dia beli dari produsen lainnya. Kuncinya di sini adalah networking dan kemauan untuk menjalin networking yang baru.
Pada hari-hari tertentu dia keliling dari kios ke kios, dari toko ke toko, dari butik ke butik, dan dari PKL ke PKL lainnya untuk mengecek barang dagangannya, menagih bayaran untuk barang yang laku, dan menitipkan kembali barang-barang baru untuk mengganti yang sudah laku atau menukar dengan barang yang tidak laku.
Ketika ditanya penghasilannya, dia bilang yach.. lumayan dan tersenyum penuh makna :-) .
Yang jelas dengan cara ini, dia bisa punya banyak toko tanpa perlu menyewa toko dan tanpa membeli toko. Iapun bisa mengatur sendiri irama bisnisnya.

